Cara Mengatasi Obesitas pada Anak dan Remaja

Informasi kesehatan dari Dokter Spesialis Anak tentang Cara Mengatasi Obesitas pada Anak dan Remaja

INFO KESEHATAN

dr. Rhama Patria Bharata, M.Med.Sc., Sp.A.

7/22/20267 min read

Obesitas pada Anak Semakin Meningkat, Orang Tua Perlu Lebih Waspada

"Biar saja, nanti juga kurus sendiri kalau sudah besar."

Kalimat seperti ini masih sering terdengar ketika seorang anak mengalami kelebihan berat badan. Padahal, tidak semua anak yang gemuk akan tumbuh menjadi kurus dengan sendirinya. Justru pada banyak kasus, obesitas yang dimulai sejak masa kanak-kanak akan menetap hingga remaja bahkan dewasa, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis di kemudian hari.

Obesitas adalah kondisi ketika jumlah lemak tubuh berlebihan sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Pada anak, penilaian obesitas tidak cukup hanya melihat berat badan. Dokter biasanya menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin (BMI-for-age).

Obesitas pada anak bukan sekadar masalah penampilan. Kondisi ini merupakan penyakit kronis yang terjadi akibat penumpukan lemak tubuh secara berlebihan sehingga dapat mengganggu kesehatan. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental, prestasi belajar, hingga kualitas hidup anak. Dalam beberapa dekade terakhir, angka obesitas pada anak dan remaja terus meningkat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Perubahan pola makan, semakin mudahnya memperoleh makanan tinggi kalori, serta berkurangnya aktivitas fisik menjadi faktor yang berperan besar.

Penyebab Obesitas pada Anak dan Remaja

Banyak orang menganggap obesitas hanya terjadi karena anak makan terlalu banyak. Faktanya, penyebab obesitas sangat kompleks karena melibatkan interaksi antara faktor genetik, lingkungan, pola hidup, kondisi psikologis, hingga penyakit tertentu.

Penyebab yang paling sering adalah asupan kalori yang melebihi kebutuhan tubuh. Anak sering mengonsumsi makanan tinggi kalori tetapi rendah gizi, seperti makanan ultra-proses (ultra-processed food atau UPF), makanan cepat saji, camilan kemasan, gorengan, kue manis, minuman berpemanis, teh kemasan, minuman boba, hingga susu dengan tambahan gula yang diminum berlebihan. Tanpa disadari, kebiasaan ngemil sepanjang hari dapat menyumbang ratusan kalori tambahan.

Selain jenis makanan, pola makan yang tidak teratur juga berperan besar. Ada anak yang melewatkan sarapan, kemudian makan dalam jumlah sangat banyak saat siang atau malam. Sebagian lainnya terbiasa makan sambil menonton televisi atau bermain gawai sehingga tidak menyadari rasa kenyang dan akhirnya makan berlebihan.

Kurangnya aktivitas fisik juga menjadi penyebab utama. Saat ini banyak anak menghabiskan waktu berjam-jam duduk di depan televisi, bermain game, atau bermain dengan gadget. Waktu untuk berlari, bersepeda, bermain di luar rumah, atau berolahraga menjadi semakin sedikit. Akibatnya, energi yang masuk jauh lebih besar dibandingkan energi yang dikeluarkan.

Faktor genetik juga memiliki pengaruh. Anak yang memiliki ayah atau ibu dengan obesitas memang mempunyai risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Namun, faktor keturunan bukan berarti obesitas tidak dapat dicegah. Gen hanya meningkatkan kerentanan, sedangkan gaya hidup tetap menjadi penentu utama.

Aspek psikologis juga tidak boleh diabaikan. Sebagian anak menggunakan makanan sebagai pelarian ketika sedang sedih, bosan, marah, atau stres. Mereka makan bukan karena lapar, melainkan untuk memperoleh rasa nyaman. Pada beberapa anak dengan ADHD, terutama tipe hiperaktif-impulsif, kontrol terhadap keinginan makan juga dapat menjadi lebih sulit sehingga meningkatkan risiko obesitas.

Selain itu, beberapa obat dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Penggunaan kortikosteroid jangka panjang, misalnya pada penyakit tertentu, dapat meningkatkan nafsu makan dan menyebabkan penumpukan lemak. Demikian pula obat antipsikotik seperti risperidone yang memang diketahui memiliki efek samping berupa peningkatan berat badan pada sebagian anak.

Pada sebagian kecil kasus, obesitas merupakan gejala dari penyakit tertentu. Hipotiroidisme, sindrom Cushing, defisiensi hormon pertumbuhan, sindrom Prader-Willi, tumor otak yang memengaruhi pusat pengaturan nafsu makan, sindrom ovarium polikistik (PMOS) pada remaja putri, hingga beberapa kondisi neurologis dan disabilitas intelektual dapat berkontribusi terhadap terjadinya obesitas.

Mengapa Obesitas Harus Diatasi Sejak Dini?

Tekanan darah tinggi kini semakin sering ditemukan pada anak dengan obesitas. Pembuluh darah menjadi lebih kaku sehingga jantung harus bekerja lebih keras. Bila tidak dikendalikan, kondisi ini dapat berlanjut hingga dewasa dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Obesitas juga merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya diabetes melitus tipe 2 pada remaja. Dahulu penyakit ini hampir hanya ditemukan pada orang dewasa, tetapi kini semakin banyak dijumpai pada usia muda akibat meningkatnya angka obesitas. Gangguan metabolik lain yang sering terjadi adalah kolesterol tinggi, trigliserida tinggi, dan penyakit hati berlemak non-alkohol (non-alcoholic fatty liver disease atau NAFLD). Penumpukan lemak di hati dapat menyebabkan peradangan dan kerusakan hati apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Pada sistem pernapasan, obesitas meningkatkan risiko asma serta gangguan tidur berupa mendengkur keras dan obstructive sleep apnea. Anak dapat mengalami tidur yang tidak berkualitas sehingga mudah mengantuk di siang hari, sulit berkonsentrasi, dan prestasi belajar menurun. Beban tubuh yang berlebihan juga menyebabkan nyeri lutut, nyeri kaki, gangguan postur, dan keterbatasan saat beraktivitas. Anak menjadi semakin malas bergerak sehingga terbentuk lingkaran yang memperberat obesitas.

Satu hal yang sering terlupakan adalah dampak psikologisnya. Anak dengan obesitas lebih rentan menjadi korban perundungan, kehilangan rasa percaya diri, menarik diri dari pergaulan, mengalami kecemasan, stres, hingga depresi. Karena itu, obesitas tidak boleh dianggap sebagai masalah kosmetik semata.

Mengenal Early Adiposity Rebound, Mengapa Obesitas Sejak Kecil Lebih Sulit Diatasi?

Salah satu konsep penting yang perlu diketahui orang tua adalah early adiposity rebound. Secara normal, indeks massa tubuh anak akan menurun setelah usia sekitar satu tahun, kemudian mencapai titik terendah pada usia lima hingga enam tahun sebelum kembali meningkat secara perlahan. Peningkatan kembali ini disebut adiposity rebound.

Masalah muncul apabila kenaikan tersebut terjadi terlalu dini, misalnya sebelum usia lima tahun. Kondisi ini disebut early adiposity rebound dan merupakan salah satu faktor risiko kuat terjadinya obesitas pada masa remaja maupun dewasa. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pada periode tersebut, jumlah dan ukuran sel lemak bertambah lebih cepat dibandingkan normal. Selain itu, mulai terjadi resistensi terhadap hormon leptin. Leptin sebenarnya berfungsi mengirim sinyal kenyang ke otak. Ketika terjadi resistensi leptin, otak menjadi kurang peka terhadap sinyal tersebut sehingga anak lebih mudah merasa lapar dan cenderung makan lebih banyak.

Akibatnya, berat badan menjadi semakin sulit dikendalikan. Semakin lama obesitas berlangsung, semakin banyak sel lemak yang terbentuk. Sel-sel lemak tersebut tidak mudah menghilang sehingga pengelolaan berat badan pada usia remaja dan dewasa menjadi jauh lebih menantang dibandingkan bila intervensi dilakukan sejak dini. Inilah alasan mengapa dokter anak tidak menganjurkan menunggu hingga anak besar baru mulai melakukan perubahan gaya hidup.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Saat memeriksa anak dengan obesitas, dokter tidak hanya menimbang berat badan. Ada berbagai tanda klinis yang dapat memberikan petunjuk adanya komplikasi metabolik. Salah satunya adalah munculnya garis-garis kemerahan atau keunguan pada kulit yang dikenal sebagai striae. Selain itu, dokter akan melihat apakah terdapat acanthosis nigricans, yaitu kulit yang tampak lebih gelap, tebal, dan bertekstur seperti beludru pada bagian belakang leher, ketiak, atau lipatan tubuh. Kondisi ini sering menjadi petunjuk adanya resistensi insulin.

Pada remaja laki-laki dapat ditemukan pembesaran payudara (gynecomastia), sedangkan lingkar perut yang melebihi 80 cm pada perempuan atau 90 cm pada laki-laki menunjukkan penumpukan lemak di area perut yang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit metabolik. Tekanan darah juga perlu diukur secara rutin. Pada remaja, tekanan darah di atas 130/85 mmHg memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan laboratorium, terutama bila obesitas sudah cukup berat atau terdapat faktor risiko lain. Pemeriksaan yang sering dilakukan meliputi kadar kolesterol HDL, trigliserida, gula darah puasa, fungsi hati, dan pemeriksaan lain sesuai indikasi. Apabila ditemukan HDL rendah, trigliserida tinggi, gula darah puasa meningkat, tekanan darah tinggi, dan obesitas sentral secara bersamaan, dokter akan mempertimbangkan kemungkinan sindrom metabolik. Kondisi ini merupakan kumpulan faktor risiko yang secara signifikan meningkatkan peluang terjadinya diabetes dan penyakit jantung di kemudian hari.

Bagaimana Cara Mengatasi Obesitas pada Anak?

Anak yang masih dalam masa pertumbuhan, target utama sering kali bukan menurunkan berat badan secara drastis. Dokter justru berusaha mempertahankan berat badan agar tinggi badan terus bertambah. Dengan demikian, indeks massa tubuh akan membaik secara bertahap. Sedangkan remaja yang telah selesai atau hampir selesai mengalami pertumbuhan, penurunan berat badan secara perlahan sekitar 0,5 kilogram per minggu umumnya menjadi target yang lebih realistis dan aman.

Perubahan pola makan menjadi langkah utama. Anak dianjurkan makan tiga kali sehari dengan jadwal yang teratur. Bila diperlukan camilan, pilihlah buah segar atau makanan bergizi dalam porsi yang sesuai. Kebutuhan kalori setiap anak berbeda, sehingga konsultasi dengan dokter atau ahli gizi penting untuk menentukan target yang tepat.

Pilih makanan yang rendah lemak jenuh dan tinggi serat. Perbanyak sayur, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein berkualitas. Kurangi konsumsi makanan ultra-proses karena umumnya mengandung kalori tinggi, gula, garam, dan lemak dalam jumlah besar. Minuman juga sering menjadi sumber kalori tersembunyi. Mengurangi minuman manis merupakan salah satu perubahan yang memberikan dampak besar. Air putih sebaiknya menjadi pilihan utama sehari-hari. Jus buah, meskipun berasal dari buah asli, tetap mengandung gula alami dalam jumlah tinggi dan lebih sedikit serat dibandingkan buah utuh.

Aktivitas fisik sama pentingnya dengan pengaturan makan. Anak dan remaja dianjurkan aktif bergerak sedikitnya 60 menit setiap hari. Aktivitas tersebut dapat berupa berjalan cepat, bersepeda, berenang, bermain bola, menari, atau olahraga lain yang disukai. Tidak harus selalu di pusat kebugaran; yang terpenting adalah dilakukan secara rutin dan menyenangkan. Di sisi lain, waktu layar (screen time) juga perlu dibatasi. Terlalu lama bermain gawai atau menonton televisi tidak hanya mengurangi aktivitas fisik, tetapi juga meningkatkan kecenderungan makan tanpa sadar. Tidur yang cukup sering kali dilupakan. Anak dan remaja memerlukan sekitar delapan hingga sepuluh jam tidur setiap malam. Kurang tidur dapat mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang sehingga meningkatkan risiko makan berlebihan.

Kebiasaan makan bersama keluarga di meja makan setidaknya lima kali setiap minggu juga terbukti memberikan manfaat. Saat makan bersama, orang tua dapat menjadi teladan dalam memilih makanan sehat, mengatur porsi makan, serta menciptakan suasana makan yang lebih menyenangkan tanpa gangguan televisi atau telepon genggam.

Yang tidak kalah penting, perubahan gaya hidup sebaiknya dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Akan sulit meminta anak berhenti minum minuman manis jika orang tua masih rutin mengonsumsinya di rumah. Lingkungan keluarga yang mendukung merupakan salah satu faktor keberhasilan terbesar dalam terapi obesitas.

Hindari Diet yang Terlalu Ketat dan Jangan Pernah Mengejek Anak

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menerapkan diet yang sangat ketat pada anak. Pembatasan makanan secara ekstrem justru dapat mengganggu pertumbuhan, memicu kekurangan zat gizi, serta meningkatkan risiko anak mengalami hubungan yang tidak sehat dengan makanan.

Anak juga tidak boleh diejek, dipermalukan, atau dibandingkan dengan teman maupun saudara yang lebih kurus. Komentar seperti "kok tambah gendut?" atau "malu dong badannya besar" tidak akan memotivasi anak. Sebaliknya, hal tersebut dapat menurunkan rasa percaya diri, memicu stres, dan membuat anak semakin sering makan sebagai pelarian emosi. Pendekatan yang lebih efektif adalah memberikan dukungan, melibatkan anak dalam menentukan target yang realistis, serta memberikan pujian atas setiap perubahan kecil yang berhasil dilakukan.

Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?

Segera konsultasikan dengan dokter apabila berat badan anak terus meningkat dengan cepat, lingkar perut semakin besar, muncul kulit leher yang menghitam, tekanan darah meningkat, anak sering mendengkur saat tidur, mengalami nyeri lutut, atau terdapat riwayat diabetes dan penyakit jantung dalam keluarga.

Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan bila obesitas disertai pertumbuhan tinggi badan yang melambat, pubertas yang tidak normal, atau terdapat dugaan gangguan hormonal maupun genetik. Semakin dini obesitas dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi jangka panjang.

Tentang Penulis

dr. Rhama Patria Bharata, M. Med. Sc., Sp.A adalah dokter spesialis anak di area Gombong Kebumen Jawa Tengah, yang melayani perawatan bayi, konsultasi nutrisi, tumbuh kembang, imunisasi, serta kesehatan anak dan remaja. Selain praktik klinis, juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai permasalahan dan kesehatan anak.

Jadwal Praktik

Senin s/d Sabtu : 08.00-13.00 WIB

Minggu : 08.00-10.00 WIB (Khusus Dengan Perjanjian)

Pelayanan

Ikuti Media Sosial kami

HUBUNGI KAMI

LOKASI KAMI

Email : rsu.purwogondo@yahoo.co.id rspurwogondo@gmail.com

Telp. (0287) 4760192 / 472588 WA. 087736238999

© 2024. Div IT RSU Purwogondo