Demam pada Anak: Penyebab, Cara Mengatasi, dan Pertolongan Pertama Saat Kejang

Informasi kesehatan dari Dokter Spesialis Anak tentang Demam pada Anak. Tentang Penyebab, Cara Mengatasi, dan Pertolongan Pertama Saat Kejang

INFO KESEHATAN

dr. Rhama Patria Bharata, M.Med.Sc., Sp.A.

4/9/20265 min read

Saat Termometer Naik dan Orang Tua Panik

Demam pada anak sering membuat orang tua khawatir. Tidak sedikit orang tua yang langsung panik ketika melihat angka di termometer naik.. Pikiran buruk langsung bermunculan: Apakah ini berbahaya? Apakah perlu antibiotik? Apakah anak harus segera ke rumah sakit? Padahal, pada banyak kasus, demam sebenarnya adalah reaksi alami tubuh saat melawan infeksi. Artinya, demam bukan selalu musuh, justru sering menjadi tanda bahwa sistem imun anak sedang bekerja.Namun di sisi lain, ada kondisi demam yang memang perlu diwaspadai, terutama jika disertai tanda bahaya atau kejang. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami penyebab demam, cara menanganinya di rumah, serta langkah yang tepat jika anak mengalami kejang.

Apa Itu Demam dan Apa Penyebabnya?

Demam adalah peningkatan suhu tubuh di atas 38°C yang biasanya terjadi karena respons tubuh terhadap infeksi atau peradangan. Sistem imun akan mengenali kuman yang masuk ke tubuh dan meningkatkan suhu tubuh sebagai salah satu cara untuk melawan infeksi tersebut. Secara umum, penyebab demam pada anak dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama: infeksi virus, infeksi bakteri, dan penyebab lain yang lebih jarang.

  1. Infeksi Virus (Penyebab Paling Sering)

    Sebagian besar demam pada anak disebabkan oleh virus. Demam jenis ini biasanya muncul mendadak dengan suhu cukup tinggi, namun akan sembuh sendiri karena sistem imun tubuh mampu melawan virus tersebut. Biasanya demam akibat virus akan membaik dalam waktu kurang dari 7 hari

    Beberapa contoh penyakit virus yang sering menyebabkan demam pada anak antara lain:

    • Selesma (common cold)

    • Influenza

    • COVID-19

    • Rotavirus (diare pada anak)

    • Roseola

    • Campak

    • Demam berdarah

    Pada infeksi virus, antibiotik tidak diperlukan, karena antibiotik hanya bekerja melawan bakteri. Memberikan antibiotik tanpa indikasi justru dapat menimbulkan efek samping seperti alergi obat, diare, gangguan pencernaan, bahkan bisa menyebabkan resistensi antibiotik atau kuman kebal terhadap obat di kemudian hari. Karena itu, tidak semua demam membutuhkan antibiotik.

  2. Infeksi Bakteri

    Berbeda dengan virus, infeksi bakteri biasanya memiliki pola demam yang sedikit berbeda. Demam akibat bakteri cenderung naik secara perlahan, berlangsung lebih lama, dan bisa berlangsung lebih dari 7 hari jika tidak diobati. Pada kondisi ini, dokter akan memberikan antibiotik yang sesuai untuk mengatasi infeksi. Contoh infeksi bakteri yang sering menyebabkan demam pada anak antara lain:

    • Infeksi saluran kemih (ISK)

    • Demam tifoid

    • Pneumonia (radang paru)

    • Disentri (BAB dengan feses berlendir atau berdarah)

    • Tonsilofaringitis (amandel bengkak)

    Untuk memastikan penyebabnya, dokter akan melakukan pemeriksaan klinis dan kadang disertai pemeriksaan laboratorium.

  3. Penyebab Lain (Lebih Jarang)

    Selain infeksi, ada beberapa kondisi lain yang juga bisa menyebabkan demam, meskipun kasusnya jauh lebih jarang. Misalnya penyakit autoimun, reaksi alergi berat, kanker, dan penyakit inflamasi kronis.

Cara Mengatasi Demam pada Anak di Rumah

Ketika anak demam, tujuan utama perawatan di rumah adalah membuat anak lebih nyaman dan mencegah dehidrasi. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua.

  1. Pastikan Anak Minum Cukup

    Saat demam, tubuh kehilangan lebih banyak cairan. Karena itu anak perlu minum lebih banyak. Tidak harus air putih, beberapa pilihan cairan yang bisa diberikan antara lain air putih, susu, jus buah, dan kuah sup. Cairan membantu mencegah dehidrasi dan membantu tubuh menurunkan suhu.

  2. Kompres Hangat

    Kompres hangat dapat membantu menurunkan suhu tubuh secara alami. Letakkan kompres di area lipatan tubuh seperti ketiak, lipat paha, dan leher. Hindari kompres dengan air dingin atau es karena dapat membuat anak menggigil dan justru meningkatkan suhu tubuh.

  3. Gunakan Pakaian Tipis

    Saat demam, tubuh berusaha melepaskan panas. Karena itu anak sebaiknya memakai pakaian yang tipis dan nyaman, agar panas tubuh dapat keluar dengan lebih mudah.

  4. Anak Boleh Mandi

    Banyak orang tua takut memandikan anak saat demam. Padahal sebenarnya anak tetap boleh mandi.

    Gunakan air hangat (bukan air dingin), karena mandi dapat membantu menurunkan suhu tubuh dan membuat anak lebih nyaman.

  5. Berikan Obat Penurun Demam

    Obat yang paling sering digunakan untuk anak adalah paracetamol. Paracetamol dapat diberikan setiap 4–6 jam sesuai dosis yang dianjurkan dokter.. Namun perlu diingat bahwa obat penurun demam tidak menyembuhkan penyakit, melainkan hanya membantu membuat anak lebih nyaman.

Kapan Demam Anak Perlu Pemeriksaan Laboratorium?

Banyak orang tua ingin segera melakukan pemeriksaan darah saat anak baru demam satu atau dua hari. Padahal, pada tiga hari pertama demam, hasil pemeriksaan darah sering kali masih normal meskipun anak sedang sakit. Karena itu, pemeriksaan laboratorium seperti darah rutin biasanya baru dianjurkan jika demam sudah memasuki hari ke-4 atau jika demam tidak kunjung membaik. Pemeriksaan laboratorium juga dianjurkan dokter jika terdapat gejala lain yang mencurigakan. Pemeriksaan ini membantu dokter menentukan apakah penyebabnya virus atau bakteri, bahkan mengetahui kecurigaan infeksi virus dengue (demam berdarah).

Tanda Bahaya Demam pada Anak

Meskipun sebagian besar demam tidak berbahaya, ada beberapa kondisi yang harus segera mendapatkan pertolongan medis. Segera bawa anak ke IGD atau fasilitas kesehatan jika muncul tanda berikut:

  • suhu sangat tinggi lebih dari 40°C

  • kejang

  • sakit kepala berat

  • anak sangat mengantuk dan sulit dibangunkan

  • muncul ruam, memar, atau mimisan

  • anak sulit minum

  • muntah terus-menerus

  • ada tanda dehidrasi, misalnya tidak pipis selama 6 jam

  • telapak tangan dan kaki sangat dingin

  • napas cepat atau sesak (lebih dari 40 kali per menit)

Gejala-gejala ini bisa menjadi tanda infeksi yang lebih serius dan perlu penanganan segera.

Kejang Demam pada Anak

Salah satu kondisi yang paling membuat orang tua panik adalah kejang demam. Meskipun terlihat menakutkan, sebagian besar kejang demam sebenarnya tidak menyebabkan kerusakan otak dan tidak berbahaya. Biasanya kejang berlangsung singkat, sekitar 1–5 menit, dan akan berhenti sendiri.
Namun orang tua tetap perlu mengetahui cara pertolongan pertama yang benar.

Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang

Jika anak mengalami kejang, hal terpenting adalah tetap tenang dan memastikan anak aman.

Berikut langkah yang harus dilakukan.

  1. Tetap Tenang: Panik justru membuat kita sulit berpikir jernih. Tarik napas dan fokus pada keselamatan anak.

  2. Baringkan Anak di Tempat Datar: Letakkan anak di lantai atau tempat tidur yang datar agar tidak jatuh.

  3. Miringkan Kepala Anak: Posisi ini disebut posisi pemulihan (recovery position) dan bertujuan agar muntahan tidak masuk ke saluran napas dan napas tetap lancer.

  4. Longgarkan Pakaian: Buka kancing baju atau pakaian yang terlalu ketat agar anak lebih mudah bernapas.

  5. Jangan Memasukkan Apa Pun ke Mulut. Ini adalah kesalahan yang masih sering dilakukan. Memasukkan sendok, jari, atau benda lain ke mulut anak justru bisa menyebabkan luka pada mulut , patah gigi, tersedak

  6. Jangan Menahan Gerakan Kejang. Gerakan kejang terjadi karena aktivitas listrik di otak. Menahan tubuh anak tidak akan menghentikan kejang dan justru berisiko menyebabkan cedera.

  7. Jangan Memberi Minum. Saat kejang, anak tidak sadar dan tidak dapat menelan dengan baik. Memberi minum bisa menyebabkan tersedak.

  8. Catat Lama Kejang. Jika memungkinkan, catat berapa lama kejang berlangsung dan bagian tubuh mana yang bergerak. Merekam video juga dapat membantu dokter mengevaluasi kondisi anak.

  9. Setelah Kejang Berhenti, pastikan napas anak lancar, tunggu hingga anak sadar sepenuhnya, berikan obat penurun demam jika diperlukan, dan tetap segera bawa anak ke IGD untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kondisi yang Sering Disangka Kejang

Tidak semua gerakan tubuh saat demam adalah kejang. Ada beberapa kondisi yang sering membuat orang tua khawatir, padahal sebenarnya bukan kejang. Misalnya:

  • Menggigil Saat Demam: Tubuh menggigil karena suhu tubuh sedang meningkat.

  • Napas Tersengal Saat Menangis: Beberapa anak menangis hingga tampak seperti sesak.

  • Refleks Moro pada Bayi: Pada bayi kecil, gerakan tangan tiba-tiba terbuka adalah refleks normal.

Perbedaan utama dengan kejang adalah: Saat kejang, anak tidak sadar dan gerakan tidak dapat dihentikan meskipun dipanggil atau dipegang.

Tips Agar Orang Tua Tidak Panik Menghadapi Demam Anak

Demam adalah bagian yang hampir tidak terpisahkan dari masa tumbuh kembang anak.
Beberapa tips agar orang tua lebih tenang menghadapi demam antara lain:

  • simpan termometer di rumah

  • ketahui dosis obat demam anak

  • pastikan anak minum cukup

  • kenali tanda bahaya demam

  • pelajari pertolongan pertama saat kejang

Informasi sederhana ini dapat membuat orang tua jauh lebih siap.

Tentang Penulis

dr. Rhama Patria Bharata, M. Med. Sc., Sp.A adalah dokter spesialis anak di area Gombong Kebumen Jawa Tengah, yang melayani perawatan bayi, konsultasi nutrisi, tumbuh kembang, imunisasi, serta kesehatan anak dan remaja. Selain praktik klinis, juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai permasalahan dan kesehatan anak.

Jadwal Praktik

Senin s/d Sabtu : 08.00-13.00 WIB

Minggu : 08.00-10.00 WIB (Khusus Dengan Perjanjian)