Batuk Lama pada Anak Bisa Jadi Tuberkulosis, Kenali Gejala TB Anak Sejak Dini
Informasi kesehatan dari Dokter Spesialis Anak tentang Gejala Tuberkulosis pada anak
INFO KESEHATAN
dr. Rhama Patria Bharata, M.Med.Sc., Sp.A.
3/31/20265 min read


Saat Batuk Tak Kunjung Sembuh pada Anak
Batuk pada anak sering dianggap hal yang biasa. Banyak orang tua mengira batuk hanya akibat flu, alergi, atau perubahan cuaca. Namun bagaimana jika batuk berlangsung lebih dari dua minggu? Atau anak tampak mudah lelah, berat badan sulit naik, dan sering demam ringan yang tidak jelas penyebabnya? Keluhan seperti ini terkadang menjadi tanda tuberkulosis (TB) pada anak, penyakit infeksi yang masih cukup sering ditemukan di Indonesia.
Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia (World TB Day). Peringatan ini mengingatkan kita bahwa TB masih menjadi masalah kesehatan global, termasuk pada anak-anak. Menurut berbagai laporan kesehatan dunia, jutaan anak setiap tahun terinfeksi TB, tetapi banyak yang tidak terdiagnosis karena gejalanya sering tidak khas.
Karena itu, penting bagi orang tua memahami apa itu TB pada anak, bagaimana gejalanya, faktor risiko, cara pemeriksaan, hingga pengobatannya. Dengan pengetahuan yang tepat, TB dapat dikenali lebih dini dan diobati hingga sembuh.
Apa Itu Tuberkulosis pada Anak dan Bagaimana Penularannya?
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri bernama Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini biasanya menyerang paru-paru, tetapi sebenarnya bisa menyebar ke berbagai organ tubuh. TB pada anak berbeda dengan TB pada orang dewasa. Pada anak, penyakit ini seringkali lebih sulit dikenali karena gejalanya tidak selalu jelas.
TB menular melalui udara. Penularan biasanya terjadi ketika seseorang dengan TB paru aktif batuk, bersin, atau berbicara sehingga kuman TB keluar bersama percikan droplet di udara. Anak-anak paling sering tertular dari orang dewasa yang tinggal serumah, seperti orang tua, kakek atau nenek, pengasuh, atau anggota keluarga lain. Anak jarang menularkan TB ke orang lain karena jumlah kuman pada tubuh anak biasanya lebih sedikit dibanding orang dewasa.
Jenis-Jenis Tuberkulosis pada Anak
Meskipun paru-paru merupakan organ yang paling sering terkena, TB sebenarnya dapat menyerang berbagai bagian tubuh. Berikut beberapa jenis TB yang dapat terjadi pada anak.
TB Paru: Ini merupakan jenis TB yang paling sering ditemukan. Kuman TB menyerang jaringan paru-paru dan menyebabkan gejala seperti batuk lama atau demam berkepanjangan.
TB Kelenjar (Limfadenitis TB): Pada kondisi ini, kuman TB menyerang kelenjar getah bening, biasanya di leher. Gejalanya berupa benjolan di leher yang tidak nyeri dan bisa membesar perlahan.
TB Kulit (Scrofuloderma): Jenis TB ini menyerang jaringan kulit di sekitar kelenjar getah bening yang terinfeksi. Biasanya muncul luka atau benjolan yang dapat pecah.
TB Perut: TB juga bisa menyerang organ dalam perut, seperti usus atau kelenjar di rongga perut. Gejalanya bisa berupa nyeri perut, perut tampak membesar, dan berat badan turun.
TB Tulang dan Sendi (Spondilitis TB): TB jenis ini menyerang tulang belakang atau sendi. Pada anak dapat menyebabkan nyeri punggung, perubahan bentuk tulang belakang, dan kesulitan berjalan
TB Milier: TB milier adalah bentuk TB yang berat, di mana kuman memenuhi seluruh paru dan kadang menyebar melalui aliran darah ke berbagai organ tubuh.
TB Meningitis: Ini merupakan TB yang menyerang selaput otak, menyebaban kejang dan penurunan kesadaran. Kondisi ini termasuk komplikasi TB yang serius dan memerlukan penanganan segera.
Gejala Tuberkulosis pada Anak
Salah satu tantangan dalam mendiagnosis TB pada anak adalah gejalanya sering tidak khas. Artinya, gejala dapat menyerupai penyakit lain. Beberapa gejala yang sering ditemukan antara lain:
Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu tanpa perbaikan.
Demam ringan yang berlangsung lebih dari dua minggu, biasanya tidak terlalu tinggi tetapi menetap.
Anak terlihat kurus atau berat badan tidak bertambah meskipun makan cukup.
Nafsu makan menurun
Anak tampak mudah lelah
Pembesaran kelenjar getah bening, terutama pada daerah leher.
Benjolan pada tulang atau sendi
Penegakan Diagnosis Tuberkulosis pada Anak
Karena gejala TB pada anak sering tidak spesifik, dokter biasanya tidak hanya mengandalkan satu gejala saja untuk menegakkan diagnosis. Selain itu, diperlukan juga beberapa pemeriksaan penunjang seperti Tes Mantoux (yaitu tes kulit yang digunakan untuk melihat apakah tubuh pernah terpapar kuman TB) dan foto X-ray (rontgen) dada. Untuk membantu diagnosis TB pada anak, dokter biasanya menggunakan sistem skoring TB. Jika skor memenuhi kriteria tertentu, dokter dapat mempertimbangkan diagnosis TB dan memulai pengobatan.
Pada anak yang cukup besar, dokter dapat memeriksa dahak untuk mencari kuman TB atau menggunakan tes IGRA, yaitu pemeriksaan darah yang dapat membantu mendeteksi infeksi TB. Tidak semua anak memerlukan seluruh pemeriksaan tersebut. Dokter akan menentukan pemeriksaan sesuai kondisi masing-masing anak.
Faktor Risiko Tuberkulosis pada Anak
Tidak semua anak yang terpapar kuman TB akan langsung sakit. Risiko menjadi lebih besar bila terdapat beberapa faktor berikut.
Kontak dengan penderita TB dewasa: anak yang tinggal serumah dengan penderita TB memiliki risiko tinggi tertular.
Lingkungan padat: tempat tinggal yang padat seperti asrama, pondok pesantren, panti asuhan
dapat meningkatkan risiko penularan TB.
Ventilasi dan cahaya kurang baik: Ruangan yang gelap dan kurang ventilasi membuat kuman TB lebih mudah bertahan di udara.
Daya tahan tubuh lemah: misalnya pada anak dengan gizi buruk, infeksi HIV, sedang menjalani kemoterapi, dan penggunaan steroid jangka panjang
Belum mendapat imunisasi BCG: imunisasi BCG dapat membantu melindungi anak dari bentuk TB yang berat seperti TB meningitis dan TB milier.
Pengobatan Tuberkulosis pada Anak
Kabar baiknya, TB pada anak dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan teratur. Pengobatan TB dilakukan dengan obat khusus yang disebut obat anti tuberkulosis (OAT) dan harus diminum setiap hari dengan lama pengobatan minimal 6 bulan. Dosis obat TB pada anak disesuaikan dengan berat badan. Karena itu, anak perlu dipantau secara rutin untuk memastikan dosis obat tetap sesuai.
Mengapa Obat TB Tidak Boleh Dihentikan?
Banyak orang tua merasa anak sudah sembuh setelah beberapa minggu minum obat karena gejala mulai membaik. Namun menghentikan obat sebelum waktunya dapat menyebabkan TB kambuh kembali bahkan kuman TB dapat menjadi kebal obat (resisten). TB yang kebal obat jauh lebih sulit diobati dan membutuhkan pengobatan lebih lama. Karena itu, sangat penting untuk menyelesaikan seluruh pengobatan sesuai anjuran dokter.
Perawatan Anak dengan TB di Rumah
Selain minum obat, ada beberapa hal yang dapat membantu proses pemulihan anak.
Pastikan rumah memiliki ventilasi baik; membuka jendela setiap hari memungkinkan sinar matahari dan udara segar masuk ke dalam rumah. Sinar matahari dapat membantu mengurangi kuman di udara.
Pastikan anak cukup makan; Nutrisi yang baik membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh anak. Berikan makanan yang bergizi seimbang, tinggi protein dan cukup kalori.
Istirahat cukup karena tubuh anak membutuhkan waktu untuk pulih dari infeksi.
Anak boleh sekolah jika kondisi anak sudah baik dan dokter mengizinkan, anak boleh kembali bersekolah.
Pencegahan Penularan TB di Rumah
Jika ada anggota keluarga yang menderita TB aktif, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko penularan pada anak.
Pisahkan alat makan: Gunakan alat makan terpisah untuk penderita TB aktif.
Tutup mulut saat batuk: Gunakan masker atau tisu saat batuk.
Periksa semua anggota keluarga: Jika ada satu kasus TB di rumah, sebaiknya semua anggota keluarga menjalani pemeriksaan.
Anak yang kontak erat dengan penderita TB, tetapi belum menunjukkan gejala penyakit, tetap berisiko terinfeksi. Dalam kondisi ini, dokter dapat memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) dengan tujuan mencegah infeksi TB berkembang menjadi penyakit aktif dan melindungi anak dari TB yang lebih berat
Efek Samping Obat TB pada Anak
Sebagian besar anak dapat menjalani pengobatan TB tanpa masalah berarti. Namun beberapa efek samping ringan dapat muncul. Salah satunya yaitu mual atau nafsu makan menurun. Keluhan ini biasanya sementara dan akan membaik seiring waktu. Selain itu kadang urin berwarna kemerahan, namun ini merupakan efek yang normal dan tidak berbahaya.
Meskipun jarang terjadi, beberapa efek samping obat TB memerlukan perhatian medis segera.
Segera bawa anak ke dokter jika muncul:
Muntah terus-menerus
Nyeri perut berat
Mata atau kulit tampak kuning
Anak sangat lemas
Ruam muncul di seluruh tubuh
Peran Orang Tua dalam Mengatasi TB pada Anak
Peran orang tua sangat penting dalam keberhasilan pengobatan TB pada anak. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
Mengingatkan anak minum obat setiap hari
Datang kontrol sesuai jadwal
Memantau berat badan anak
Memastikan nutrisi anak tercukupi
Dengan dukungan keluarga yang baik, sebagian besar anak dengan TB dapat sembuh sepenuhnya dan kembali menjalani aktivitas normal.
Tentang Penulis
dr. Rhama Patria Bharata, M. Med. Sc., Sp.A adalah dokter spesialis anak di area Gombong Kebumen Jawa Tengah, yang melayani perawatan bayi, konsultasi nutrisi, tumbuh kembang, imunisasi, serta kesehatan anak dan remaja. Selain praktik klinis, juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai permasalahan dan kesehatan anak.


Jadwal Praktik
Senin s/d Sabtu : 08.00-13.00 WIB
Minggu : 08.00-10.00 WIB (Khusus Dengan Perjanjian)
